Anggota DPRD Mimika jalur Otonomi Khusus (Otsus), Dominggus Kapiyau
MIMIKA – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Perhubungan diminta segera menyediakan layanan transportasi umum di Kampung Pigapu, Distrik Iwaka. Permintaan ini disampaikan oleh anggota DPRD Mimika jalur Otonomi Khusus (Otsus), Dominggus Kapiyau, menyusul keluhan masyarakat terkait sulitnya akses transportasi ke wilayah tersebut.
Saat ini, warga Kampung Pigapu hanya mengandalkan truk kontainer, truk tangki air, dan truk pasir yang kebetulan melintas, baik untuk keperluan ke pasar maupun mengakses layanan kesehatan di kota.
“Ada bus-bus hibah dari PON yang bisa dimanfaatkan. Jangan biarkan masyarakat di Pigapu terus hidup dalam keterbatasan. Mereka itu orang asli Kamoro, bagian dari masyarakat Mimika yang juga harus dilayani,” tegas Dominggus kepada Papuaeksklusif.com, Senin (4/8/2025).
Dominggus menambahkan, kehadiran pemerintah harus dirasakan hingga pelosok, termasuk masyarakat adat di pinggiran kota. Menurutnya, transportasi umum adalah kebutuhan dasar yang harus dijawab oleh pemerintah.
“Selama ini mereka hanya bergantung pada truk kontainer untuk menumpang. Kalau terjadi kecelakaan, siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya.
Dominggus juga menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat adalah tugas utama pemerintah, bukan pihak swasta.
“Pemerintah harus hadir. Yang punya masyarakat itu adalah negara, bukan PT Freeport Indonesia,” tambahnya.
Masyarakat Keluhkan Kesulitan Akses Transportasi
Keluhan serupa disampaikan langsung oleh warga Kampung Pigapu. Veronika Neakoau, warga setempat, mengatakan bahwa sejak tidak beroperasinya transportasi umum di wilayahnya, aktivitas ekonomi warga menjadi terganggu.
“Saya jual hasil laut dan kebun ke pasar, tapi sering tak terjual karena susah cari tumpangan. Kalau beruntung, bisa menumpang truk. Kalau tidak, ya pasrah,” ungkap Veronika.
Ia menambahkan, karena terkendala transportasi, dirinya dan warga lain yang berjualan di pasar harus menginap di rumah keluarga di kota hingga dagangannya habis.
Hal senada disampaikan Elisabeth Kaukayah, warga lainnya. Menurutnya, kesulitan ini juga dialami para pelajar tingkat SMP dan SMA yang harus menempuh jarak jauh ke sekolah.
“Selama ini yang bisa kami andalkan cuma truk tangki dan kontainer,” ujarnya.
Kepala Kampung: Ambulans Juga Dibutuhkan
Kepala Kampung Pigapu, Sebastian Mapareyau, menuturkan bahwa kebutuhan transportasi bukan hanya sebatas angkutan umum, tetapi juga ambulans.
Menurutnya, meskipun terdapat Puskesmas Pembantu (Pustu) dan beberapa tenaga kesehatan, fasilitas tersebut hanya mampu menangani kasus ringan. Sementara itu, pasien dengan kondisi kritis harus dirujuk ke RSUD atau RS Caritas.
“Kalau ada warga yang sakit parah, mereka hanya bisa berharap pada truk atau mobil tangki air untuk menumpang ke rumah sakit. Kalau tidak ada yang lewat, terpaksa tunggu sampai esok hari,” jelas Sebastian.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Mimika segera merespons kebutuhan tersebut agar masyarakat Pigapu bisa merasakan layanan publik yang layak seperti masyarakat di wilayah kota. (Redaksi)













