MIMIKA_ Perwakilan masyarakat sepuluh kampung di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika.
Pantauan Papuaeksklusif.com, kehadiran perwakilan masyarakat Jila di DPRK sejak Senin tanggal 3 November 2025. Kehadiran mereka di hari pertama tidak menemukan titik terang. Hari kedua Selasa tanggal 4 November perwakilan masyarakat sepuluh kampung itu kembali mendatangi kantor DPRK dan disambut langsung ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau bersama beberapa anggota DPRK Mimika.
Kehadiran perwakilan masyarakat Jila itu untuk meminta DPRK mempertemukan mereka dengan Pemerintah Kabupaten Mimika, aparat keamanan dalam hal ini Polres Mimika dan Kodim 1710/Mimika membahas ketakutan masyarakat Jila akibat penambahan pasukan TNI di Jila buntut dari penembakan terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada tanggal 31 Oktober 2025 lalu.
DPRK Mimika sebagai perpanjangan tangan masyarakat yang menerima kehadiran masyarakat tersebut, kemudian membangun komunikasi dengan Pemkab Mimika, Polres Mimika dan Kodim 1710 Mimika untuk duduk bersama dan mendengar langsung masukan dari masyarakat, selanjutnya mencari solusi terhadap penyampaian masyarakat terkait ketakutan masyarakat disana.
DPRK Mimika berhasil mempertemukan perwakilan masyarakat Jila dengan Pemerintah Kabupaten Mimika, Polres Mimika yang dihadiri langsung Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman dan Kodim 1710 Mimika yang diwakili Pasi Intel Kodim 1710/Mimika, Kapten Dolfie Goni.
Dalam tatap muka yang difasilitasi DPRK Mimika itu, Perwakilan Masyarakat Jila meminta Dandim 1710/Mimika menarik pasukan tambahan dari Distrik Jila.
Masyarakat juga meminta DPRK dan Pemkab Mimika tidak tinggal diam, segera turun ke lokasi dan melihat kondisi masyarakat disana.
Pemerintah dan DPRK diminta mencari solusi agar tidak ada ketakutan di Tengah masyarakat.
Okto menjelaskan, alasan masyarakat meminta pasukan TNI ditarik dari Jila, karena masyarakat dari beberapa kampung telah mengungsi ke Ibu kota Distrik akibat ketakutan.
“Penambahan pasukan yang ditempatkan di Jila membuat masyarakat panik dan takut, sehingga kami meminta agar aparat keamanan yang ditempatkan disana segera ditarik, beberapa kampung panik dan saat ini lari ke Ibu kota Distrik,” kata Okto mewakili masyarakat Jila.

Sementara itu, Kapten Dolfie Goni selaku Pasi Intel Kodim 1710/Mimika mewakil Dandim 1710/ Mimika, mengatakan terhadap permintaan masyarakat terkait penarikan pasukan TNI dari Jila akan disampaikan kepada pimpinan Komando atas.
“Penyampaian masyarakat kami dengar dan tampung, selanjutnya akan kami tindaklanjuti dengan menyampaikan kepada Komando atas, karena berkaitan dengan keberadaan TNI merupakan keputusan Komando atas,” kata Kapten Dolfie Goni.
Sedang, Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman mengatakan kehadiran TNI-POLRI di Jila hanya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat disana.
Selanjutnya, Pj Sekda Mimika, Abraham Kateyau menyebut persoalan dan keluhan masyarakat Jila akan disampaikan kepada pimpinan daerah selaku pengambil kebijakan.
“Apa yang telah disampaikan hari ini kami terima dan kami sampaikan kepada pimpinan dalam hal ini Bupati Mimika. Tanggungjawab Pemerintah tentunya akan kami jalani, tetapi soal keamanan merupakan wewenang pihak keamanan,” ujar Abraham.
Tatap muka tersebut diakhiri dengan penyerahan aspirasi masyarakat disampaikan kepada DPRK Mimika yang diterima langsung Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau dan disaksikan Pemerintah Kabupaten Mimika dan TNI-POLRI. (Redaksi)













