​TIMIKA — Ketua Komisi II DPRK Mimika, Dolfin Beanal, menyampaikan keprihatinan mendalam terkait buruknya fasilitas penunjang bagi warga dan tua-tua adat Kamoro yang berpartisipasi dalam gelaran Festival Seni Budaya.
​
Pihaknya menyoroti pemandangan memprihatinkan di mana warga adat terpaksa tidur di emperan toko akibat minimnya perhatian dari pihak penyelenggara.
​
“Kondisi ini memalukan. Saya kecewa dengan cara dinas terkait melayani masyarakat adat. Jangan hanya melibatkan mereka pada momen tertentu, lalu mengabaikan kebutuhan dan martabat mereka,” tegas Dolfin Beanal.
​
Dolfin Beanal pun mendesak dinas terkait untuk segera mengambil langkah nyata dan bertanggung jawab penuh atas pemenuhan fasilitas dasar warga adat Kamoro selama kegiatan berlangsung.
​
Pihak penyelenggara diminta segera memastikan ketersediaan tempat istirahat yang layak, penyediaan kendaraan, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga dan tua-tua adat Kamoro. Menurutnya, pelayanan yang layak merupakan bentuk penghormatan mendasar bagi warga Kamoro sebagai pemilik sah budaya tersebut.

​Klarifikasi Disparbudpora Mimika
​
Menanggapi sorotan tajam tersebut, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, langsung turun ke lokasi untuk menemui warga dan memberikan penjelasan terkait kondisi yang terjadi.
​
Elisabeth menjelaskan bahwa warga adat yang berada di emperan pertokoan tersebut berasal dari wilayah Poumako dan KM 11.

Berdasarkan hasil komunikasinya secara langsung, warga mengakui bahwa kedatangan mereka adalah atas inisiatif sendiri untuk menyaksikan serta meramaikan festival, meskipun mereka mengetahui tidak masuk dalam daftar undangan resmi dinas.
​
“Mereka tahu bahwa yang mengikuti kegiatan secara resmi adalah kelompok yang diundang. Namun, mereka datang atas kemauan sendiri karena ingin menonton, menyaksikan, dan meramaikan festival secara langsung,” ungkap Elisabeth.
​
Ia menambahkan bahwa warga memilih bertahan dan menginap di sekitar area kegiatan guna menghindari tingginya biaya transportasi jika harus pulang-pergi setiap hari.
​
Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral, Elisabeth memastikan pihak dinas telah menyalurkan bantuan makanan, menyediakan armada kendaraan angkutan, serta memfasilitasi kepulangan seluruh warga ke daerah asal mereka secara aman setelah rangkaian festival berakhir.