Catatan Perjalanan Pansus Tapal Batas DPRK Mimika Saat Kapiraya Memanggil

Screenshot 20260507 191401 WhatsAppBusiness
Rombongan tim pansus tapal batas DPRK Mimika bertolak menuju Kapiraya menggunakan transportasi laut. (Foto. Jefri Manehat)

(Bagian 1)

POUMAKO – Deru mesin perahu fiber memecah ketenangan Pelabuhan Perikanan (PPI) Poumako pagi itu. Jarum jam menunjukkan pukul 10.50 WIT ketika dua buah perahu perlahan meninggalkan dermaga, membelah riak air menuju cakrawala Barat Mimika.

Bacaan Lainnya

Di atas perahu tersebut, duduk serombongan wajah penuh tekad. Mereka adalah tim Panitia Khusus (Pansus) Tapal Batas Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika.

Bukan sekadar perjalanan dinas biasa, ini adalah misi penjemputan keadilan bagi masyarakat Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah.

Doa di Ambang Keheningan

​Rombongan ini dipimpin langsung oleh Dominggus Kapiyau, Ketua Tim Pansus, didampingi para anggota lainnya, Rampeani Rachman, Mariunus Tandiseno, Dolfin Beanal, dan Yuliana Amisim. Turut serta pula pengawalan dari Kapolsek Mimika Barat guna memastikan keamanan perjalanan menyusuri perairan liar Mimika.

Sebelum “moncong” perahu benar-benar mengarah ke laut lepas, sebuah ritual sakral dilakukan. Di tengah goyangan ombak kecil, semua kepala tertunduk.

“Sebelum melakukan perjalanan, kita menyatukan hati dalam doa agar perjalanan ini diberkati Tuhan dan kita semua bisa tiba dengan selamat,” ucap Dominggus Kapiyau dengan nada yang dalam dan tenang.

Bagi mereka, doa adalah satu-satunya kompas yang tidak pernah salah arah.

Melawan Awan Hitam

Perjalanan tidaklah semulus yang dibayangkan. Di langit, awan hitam mulai menggantung rendah, seolah-olah memberikan peringatan akan tantangan alam yang menanti di depan. Namun, semangat yang membara di dada para wakil rakyat ini lebih kuat dari mendung mana pun.

Tujuannya jelas, mengembalikan ketenangan bagi warga Kapiraya. Mereka ingin masyarakat di sana kembali memeluk tanah leluhur mereka tanpa rasa cemas, tanpa sengketa yang menghantui masa depan anak cucu.

Senja yang Berganti Gulita

​Jam demi jam berlalu. Pemandangan hijau hutan bakau perlahan memudar seiring matahari yang mulai turun ke peraduan. Senja yang jingga sempat menemani sesaat, sebelum akhirnya ia pamit dan menyerahkan alam pada kekuasaan malam.

Cahaya senter dari atas perahu mulai dinyalakan, membelah kegelapan yang menyelimuti sungai. Barulah sekitar pukul 18.40 WIT, rombongan tiba di wilayah Distrik Amar. Kondisi air yang sedang surut menyebabkan pendangkalan, memaksa kedua perahu menepi di hamparan pasir yang basah.

Hotel Berbintang Langit di Pesisir Amar

Malam itu, perjalanan harus dihentikan. Fisik yang terkuras menuntut jeda. Satu per satu bahan makanan dan peralatan diturunkan ke daratan. Di sana, di pinggiran Amar, rombongan memutuskan untuk bermalam.

Tidak ada kasur empuk, tidak ada pendingin ruangan, apalagi kemewahan hotel berbintang. Malam itu, hamparan pasir yang dialasi terpal tipis menjadi tempat mereka merebahkan tubuh yang penat.

Suara deburan ombak dan heningnya malam menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah perjuangan batas wilayah.

​Meski punggung hanya beralaskan pasir, ada senyum kepuasan di wajah mereka. Kapiraya memang masih selangkah lagi di depan, namun tekad yang mereka bawa malam itu telah membuktikan bahwa demi tanah leluhur, kenyamanan pribadi hanyalah nomor sekian.

Bersambung…

Penulis: Jefri Manehat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *