TIMIKA — Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menempatkan penanganan malaria sebagai salah satu prioritas utama setelah dilantik pada 5 Oktober 2026 dan mulai menjalankan tugasnya. Dalam wawancara pada Kamis (8/10/2026), ia menegaskan bahwa penanggulangan malaria tidak bisa lagi hanya bergantung pada penanganan saat warga sudah jatuh sakit.
​
Menurutnya, intervensi harus bergerak lebih awal melalui penguatan edukasi kesehatan, pencegahan, pemeriksaan dini, hingga pengobatan tuntas guna mengejar target Eliminasi Malaria Mimika 2030.
​
“Mimika tinggi, penyumbang terbanyak. Jadi salah satu target malaria,” ujar Plh. Kadinkes Mimika.

​Ia menilai tingginya beban kasus di Mimika menuntut pendekatan yang lebih proaktif pada fase sebelum timbulnya kesakitan. Masyarakat perlu dibekali informasi yang konsisten dan mudah dipahami mengenai tata cara mencegah gigitan nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, mengenali gejala awal, serta segera berobat ke fasilitas kesehatan hingga tuntas. Edukasi yang berkelanjutan ini diharapkan dapat mengubah pola pencegahan menjadi sebuah kebiasaan bersama, bukan sekadar respons sesaat ketika kasus melonjak.

Intervensi Sejak Dini Melalui Edukasi Publik
​
Arah intervensi yang didorong mencakup penguatan komunikasi risiko dan edukasi publik di berbagai ruang masyarakat. Dinas Kesehatan akan memastikan pesan-pesan pencegahan malaria hadir secara rutin melalui fasilitas pelayanan kesehatan, kader, sekolah, komunitas, tempat kerja, media massa, hingga ruang-ruang publik.
​
Langkah ini dilakukan agar masyarakat tidak hanya menyadari bahwa malaria masih menjadi ancaman, tetapi juga memahami tindakan konkret yang dapat dilakukan setiap hari untuk melindungi diri dan keluarga.
​
Selain malaria, ia juga menyebutkan beberapa isu kesehatan strategis lain yang menjadi perhatian awal, seperti dampak kabut asap, penanganan stunting, dan pengendalian tuberkulosis (TB). Namun khusus untuk malaria, Mimika membutuhkan kerja ekstra dan terarah mengingat tingginya angka kasus serta perlunya penanganan yang berkelanjutan.

Pembenahan Internal untuk Perkuat Pelayanan
​
Di samping penanganan isu kesehatan di lapangan, Plh. Kadinkes Mimika juga memprioritaskan pembenahan birokrasi dan sistem manajemen internal Dinas Kesehatan pada minggu-minggu awal masa jabatannya. Penataan internal ini dipandang sebagai fondasi penting agar setiap bidang kerja dapat berkoordinasi dengan baik dan program kesehatan berjalan lebih efektif.
​
“Saya harus perbaiki dulu. Saya kembalikan roh Dinas Kesehatan dulu. Setelah itu baru saya bergerak keluar,” ungkapnya.

​Menuju Eliminasi Malaria 2030: Butuh Kerja Sama Semua Pihak

Plh. Kadinkes menegaskan bahwa keberhasilan mencapai target bebas malaria pada tahun 2030 bukan tanggung jawab satu pejabat atau satu instansi semata. Pemerintah membutuhkan dukungan sinergis dari seluruh elemen masyarakat Mimika, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dunia usaha, sekolah, hingga media massa.

​“Mari satukan langkah dan buktikan bahwa Mimika bisa bebas malaria. Keberhasilan itu bukan karena saya, tetapi karena kita bekerja bersama dan dibantu oleh masyarakat Mimika,” imbaunya.

​Melalui kolaborasi lintas sektor dan langkah pencegahan yang konsisten, Mimika diharapkan dapat menekan risiko penularan sejak dini, menemukan kasus lebih cepat, memastikan pengobatan tuntas, serta menciptakan lingkungan yang aman dari penularan malaria menuju tahun 2030.