Dolfin Beanal: Patung di Bundaran Petrosea Itu Orang Mana?

WhatsApp Image 2025 08 08 at 13.03.11
Patung Bundara Petrosea, Timika, Mimika, Papua Tengah. Foto: Jefri

MIMIKA- Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika menyoroti enam patung berbahan kuningan di Bundaran Petrosea, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Anggota DPRK Mimika, Dolfin Beanal, mendesak agar patung-patung tersebut diganti karena dinilai tidak merepresentasikan identitas dua suku besar asli Mimika, yaitu suku Amungme dan Kamoro.

Bacaan Lainnya

Menurut Dolfin, keberadaan patung yang seharusnya menjadi ikon daerah justru menimbulkan kebingungan karena tidak mencerminkan karakter maupun sejarah masyarakat setempat.

Patung-patung berbahan kuningan yang kokoh berdiri di salah satu bundaran strategis Kota Timika itu dianggap gagal menjadi penanda visual yang seharusnya merepresentasikan budaya lokal.

“Patung itu tidak menggambarkan simbolis orang Amungme dan Kamoro,” tegas Dolfin, Jumat (8/8/2025).

Dolfin menyayangkan bahwa ikon kota yang seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat justru tidak memiliki keterkaitan dengan orang asli Mimika.

Ditegaskan Dolfin, sebuah ikon kota seharusnya berfungsi sebagai simbol identitas, karakter, dan sejarah suatu daerah.

Patung tersebut juga berfungsi untuk memperindah kota serta meningkatkan daya tarik wisata.

Dengan kondisi saat ini, Dolfin mempertanyakan bagaimana Kota Timika dapat memberikan informasi yang tepat kepada pengunjung jika ikon utamanya tidak merepresentasikan identitas lokal.

“Ikon kota berfungsi sebagai penanda visual yang mudah dikenali, memperindah kota, serta meningkatkan daya tarik wisata dan kebanggaan masyarakat. Bagaimana mau berikan informasi kepada orang yang datang ke Timika, kalau hal begini saja tidak merepresentasikan identitas, karakter orang Mimika,”ucapnya penuh tanda tanya.

Untuk menindaklanjuti hal ini, DPRK Mimika telah mengusulkan perubahan melalui peraturan daerah agar patung-patung tersebut diganti.

Penggantian ini diharapkan dapat menghasilkan patung baru yang benar-benar mewakili identitas suku Amungme dan Kamoro sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal. (Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *