Luka dari Mimika Barat: Saat Pintu Pejabat Eksekutif dan Legislatif Terkunci bagi Rakyat Kecil

adeta mameyau
Adeta Mameyau. (Foto. Jefri Manehat)

MIMIKA – Di bawah naungan atap balai Kampung Atapo yang menjadi saksi bisu pertemuan reses Anggota DPRK Mimika, seorang perempuan paruh baya berdiri dengan sorot mata yang tajam namun penuh luka. Ia adalah Adeta Mameyau, perempuan suku Kamoro dari Kampung Atapo, Distrik Mimika Barat.

​Suaranya tidak menggelegar, namun getaran di setiap kalimatnya mampu membungkam ruangan. Di hadapan Dominggus Kapiyau, anggota DPRK Mimika yang tengah melakukan reses, Adeta menumpahkan keresahan yang selama ini terpendam di balik rimbunnya hutan dan aliran sungai Mimika Barat.

Bacaan Lainnya

Pintu Yang Mendadak Tertutup

​Bagi Adeta dan warga Atapo lainnya, jarak geografis menuju pusat pemerintahan di Kota Timika sudah cukup menyiksa. Namun, ada jarak lain yang jauh lebih menyakitkan.

​”Kita sangat sulit untuk ketemu mereka (pejabat daerah). Padahal pada saat kampanye, mereka datang mengemis untuk dapatkan suara. Tapi setelah duduk di kursi kekuasaan, pintu seolah terkunci rapat,” ungkap Adeta dengan nada getir.

​Ironi ini bagaikan luka lama yang kembali disiram garam. Adeta mengenang bagaimana para calon pemimpin dan wakil rakyat dulunya tak segan menembus ombak dan lumpur, masuk ke kampung-kampung, dan melempar janji-janji manis demi selembar kertas suara. Namun, ketika mandat sudah di tangan, kursi empuk di gedung pemerintahan seolah membuat mereka lupa jalan pulang ke Atapo.

Wakil Rakyat Menjadi “Asing”

​Kekecewaan Adeta tidak hanya dialamatkan kepada jajaran eksekutif atau pejabat daerah. Para wakil rakyat di legislatif pun tak luput dari sorotannya. Baginya, gedung DPRK yang seharusnya menjadi rumah rakyat, kini terasa seperti benteng yang sulit ditembus.

Dulu: Datang dengan wajah memelas meminta dukungan.

​Sekarang: Sulit ditemui, bahkan untuk sekadar menyampaikan aspirasi dasar.

​”Dulu mereka datang mengemis suara, tapi setelah duduk manis di kursi DPRK, semua ingatan itu hilang. Mereka lupa siapa yang mengantar mereka ke kursi itu,” lanjutnya.

Menagih Ingatan yang Hilang

​Curhatan Mama Adeta adalah potret nyata kesenjangan antara janji politik dan realitas di lapangan. Baginya, kekuasaan seharusnya tidak mengubah manusia menjadi asing bagi kaumnya sendiri.

​Pertemuan reses tersebut menjadi momen langka di mana rakyat bisa langsung menunjuk hidung realitas yang mereka hadapi. Adeta hanya ingin satu hal: Ingatan para pejabat dipulihkan. Ia ingin mereka mengingat wajah-wajah lesu warga di pesisir yang berharap ada perubahan nyata, bukan sekadar kunjungan lima tahunan saat musim pemilu tiba.

​Kini, suara dari Atapo itu telah dilepaskan. Tantangannya tinggal satu: Apakah para pemangku kebijakan akan membuka pintu dan hati mereka, atau tetap memilih “duduk manis” hingga masa jabatan usai?

Oleh: Jefri Manehat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *