
TIMIKA — Amungsa Foundation Cares Papua menjalin sinergi dengan Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia (PW PMI) Provinsi Papua Tengah guna memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Mimika. Kolaborasi ini diwujudkan melalui penguatan sektor perikanan darat dan panen ikan bersama kelompok pembudidaya lokal di kawasan SP3, Kabupaten Mimika, Jumat (4/9/2026).
Direktur Amungsa Foundation, dr. Enny Kenangalen, M.Biomed, menjelaskan bahwa kehadiran organisasinya bertujuan menjawab tantangan kebutuhan dasar masyarakat Mimika di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Fokus budidaya ikan lele bersama PMI disiapkan untuk mengintervensi gizi masyarakat, khususnya anak-anak.
”Ikan lele mengandung asam lemak esensial dan omega-3 yang sangat bermanfaat untuk perkembangan otak dan kecerdasan anak-anak usia sekolah maupun balita. Ini merupakan langkah nyata kami dalam mendukung program prioritas kesehatan dan gizi,” ungkap dr. Enny.

Sekretaris Amungsa Foundation, Fabian Kakisina, menambahkan bahwa kolaborasi lintas organisasi dibutuhkan untuk menyukseskan program pemerintah di daerah maupun nasional, khususnya visi swasembada pangan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
”Fokus kami adalah menggerakkan sektor lokal agar maju bersama. Upaya ini sejalan dengan program swasembada pangan Presiden Prabowo sekaligus mendukung Pemkab Mimika. Kami berharap kolaborasi ini menjadi contoh bagi LSM dan komunitas lain,” kata Fabian.
Dukungan serupa disampaikan Pembina Amungsa Cares Papua sekaligus Pendiri Amungsa Foundation, Marlan Frens Kasemi Bisay. Ia mengimbau generasi muda di Mimika agar lebih aktif mengelola sumber daya lokal.
“Masih banyak PR kita bersama di tanah ini. Jika pemuda tidak bergerak, kita tidak tahu bagaimana masa depan daerah ini. Semoga kolaborasi ini memicu organisasi kepemudaan (OKP) lain untuk melihat potensi besar di sektor budidaya perikanan,” ujar Marlan.
Aksi Lapangan PMI dan Kendala Petani Lokal
Menandai dimulainya kolaborasi tersebut, PW PMI Papua Tengah menggelar panen ikan bersama pembudidaya di kawasan SP3. Ketua PW PMI Papua Tengah, Rahadian Rizky Putra, menyebut aksi turun ke jalan ini merupakan bentuk rasa syukur atas pelantikan pengurus PMI Papua Tengah sekaligus langkah awal untuk menyerap aspirasi riil masyarakat.
Namun dalam peninjauan tersebut, Rahadian menyoroti kendala klasik yang dialami para pembudidaya, terutama efektivitas bantuan pemerintah yang dinilai sering tidak tepat sasaran.

Provinsi Papua Tengah
”Masalahnya sederhana, tetapi penyelesaiannya yang tidak tepat. Apa yang dibutuhkan petani dan apa yang diberikan pemerintah kadang tidak sesuai, sehingga justru mengurangi produktivitas. Kami berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial atau sosialisasi, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan riil petani,” tegas Rahadian.
Ia menegaskan, PMI Papua Tengah berkomitmen mengawal aspirasi ini ke DPRD Mimika agar ada solusi lintas sektor. Selain itu, PMI mendorong perusahaan swasta besar di Mimika, seperti PT Freeport Indonesia (PTFI), untuk menyerap hasil panen lokal. Ke depan, pembinaan juga akan diperluas ke sektor pertanian dan peternakan.
Keluhan Pembudidaya: Akses Pasar dan Efektivitas Bantuan
Aspirasi PMI sejalan dengan kondisi yang dirasakan para pembudidaya di lapangan. Ketua Kelompok Perikanan “Mina Utama Maju”, Jazio, mengungkapkan bahwa kelompoknya yang beranggotakan 10 orang dan aktif sejak 2015 telah membudidayakan nila, lele, gurame, patin, hingga bawal. Sayangnya, pemasaran sejauh ini masih terbatas pada skala rumah tangga dan warung lokal.
”Kendala utama kami selama ini adalah pemasaran. Pasar di Timika sangat terbatas. Kami belum bisa menembus pasar perusahaan-perusahaan besar,” tutur Jazio.

Jazio menyayangkan kebutuhan pasar industri lokal yang tinggi—seperti operasional catering PTFI—masih didatangkan dari luar daerah, padahal produksi lokal melimpah.
”Ikan patin kami di kolam bahkan ada yang bobotnya sudah mencapai 2 kilogram dan belum laku. Padahal perusahaan di atas masih mendatangkan ikan patin dari luar daerah seperti Surabaya. Sangat disayangkan potensi daerah sendiri tidak terkelola maksimal,” jelasnya.
Terkait bantuan pemerintah, Jazio mengapresiasi perhatian Dinas Perikanan Kabupaten Mimika yang telah menyalurkan pakan hingga kolam. Namun, ia berharap pendataan ke depan bisa lebih presisi berbasis kebutuhan (based on needs).
”Kadang yang kami butuhkan adalah mesin aerator untuk menunjang kualitas air kolam, tetapi yang diturunkan justru pompa air atau alkon. Kami sangat berterima kasih, namun berharap ke depan ada pendataan kebutuhan yang lebih spesifik,” pungkas Jazio.
Di kawasan SP3 sendiri, terdapat lebih dari 6 hingga 7 kelompok pembudidaya ikan air tawar yang menggantungkan mata pencaharian dari sektor ini dan sangat membutuhkan kepastian akses pasar yang lebih luas.









Tinggalkan Balasan