MIMIKA_ Memasuki masa prapaskah yang ditandai dengan Rabu Abu, ribuan umat katolik mengikuti misa Rabu Abu di Stasi St. Petrus Sp1, Paroki St. Stefanus Sempan pada Rabu (18/2/2026) sore yang Misa dipimpin Pastor Norbertus Broery Renyaan, OFM.
Rabu Abu ditandai umat menerima tanda salib dari abu di dahi sebagai simbol kerendahan hati, pertobatan, dan pengingat bahwa manusia adalah fana, bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.
Rabu Abu merupakan awal masa prapaskah yang menandai dimulainya masa pertobatan selama 40 hari sebelum Paskah.

“Hari ini (Rabu Abu) kita umat katolik telah memasuki masa puasa atau masa prapaskah. Dalam masa ini kita diajak untuk mendalami misteri penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus dengan penuh pertobatan. Masa ini adalah kesempatan bagi kita untuk memperbarui diri,” ungkap Pastor Broery dalam homilinya.
Ia mengingatkan umat agar menjalani puasa prapaskah dengan sungguh- sungguh dalam rangka memperbarui diri.
“Puasa kita bukan untuk dipamerkan atau dipertunjukan dan tidak perlu pamer. Puasa kita adalah perubahan batin yang hanya diketahui oleh kita dan Tuhan sehingga Puasa kita tidak perlu di pamer. Jangan paksa muka sedih dan duka cita, tetapi lakukanlah puasa dengan suka cita dan dengan wajah yang berseri,” ungkap Pastor.
Dalam masa prapaskah, Pastor mengingatkan juga bahwa yang perlu dirubah adalah batin bukan penampilan.
“Dalam masa prapaskah, batin, kelakuan kita yang perlu dirubah, bukan pakaianmu yang dirubah. Ini adalah kesempatan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, dan jangan membuat menjadi sia-sia sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima,” pesan Pastor Broery. (Redaksi)





