Disbudparakraf Sukses Gelar Pelatihan Musik Tradisional Amungme- Kamoro, Siap Cetak Generasi Muda Penjaga Identitas Mimika

Screenshot 20260717 135711 Gallery
Foto bersama Disbudparakraf bersama para peserta pelatihan pada saat penutupan pelatihan Musik tradisional. (Foto. Jefri)

 

MIMIKA_ Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparakraf) Kabupaten Mimika sukses menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Musik Tradisional bagi Generasi Muda Suku Amungme dan Kamoro Tahun 2026.

Bacaan Lainnya

​Pelatihan intensif yang mengusung tema “Membina Pemusik Lokal untuk Membangkitkan Musik Tradisional di Kabupaten Mimika” ini berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 14 hingga 17 Juli 2026, bertempat di Hotel Cartenz, Jalan Budi Utomo, Timika.

​Kegiatan ini resmi dibuka pada Selasa, 14 Juli 2026, oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika, Ananias Faot. Dalam sambutan pembukaannya, Ananias menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan komitmen moral yang nyata dari pemerintah daerah, bukan sekadar seremonial tahunan.

Screenshot 20260717 135938 Gallery
Asisten I Setda Mimika, Ananias Faot saat membuka secara resmi pelatihan music tradisional pada tanggal 14 Juli.

“Musik tradisional Papua sering kali hanya menjadi tontonan pada acara adat atau festival tahunan. Padahal, musik ini adalah nadi kehidupan masyarakat kita. Mulai dari alunan suling gunung, ketukan tifa, hingga tiupan triton, semuanya adalah suara leluhur yang bercerita tentang keberanian, kedamaian, dan kebersamaan,” ujar Ananias hangat.

​Ananias juga menitipkan tiga pesan penting yang harus diresapi oleh para peserta generasi muda:

Menjadi Pemusik Lokal yang Berakar Kuat: Meminta generasi muda menguasai musik tradisional dengan sungguh-sungguh tanpa rasa malu, karena keunikan musik Papua adalah identitas berharga di mata dunia.

Menjadi Pemusik Lokal yang Kreatif: Mendorong peserta untuk berani berinovasi memadukan musik tradisional dengan genre modern tanpa menghilangkan ciri khas aslinya.

Menjadi Agen Pembangkit Budaya: Mewajibkan para peserta membagikan ilmu yang didapat kepada lingkungan sekitar sebagai bukti kebanggaan atas identitas Papua.

Screenshot 20260717 135812 Gallery
Kepala Disbudparakraf Mimika, Elisabeth Cenawatin menutup rangkaian pelatihan music tradisional yang ditandai dengan menabuh tifa.

​Setelah menjalani pelatihan selama empat hari, kegiatan ini ditutup secara resmi pada Jumat, 17 Juli 2026, oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin.

Dalam arahannya, Elisabeth mengapresiasi tinggi antusiasme luar biasa dari 100 peserta yang terbagi ke dalam 22 kelompok musik. Ia mengumumkan kabar gembira bahwa seluruh kelompok tersebut kini telah terdaftar secara resmi sebagai kelompok binaan Disbudparakraf Mimika.

“Kalian adalah binaan dari pemerintah, kami sudah mendata kelompok-kelompok ini. Dinas melalui bidang terkait akan terus turun ke lapangan untuk memantau perkembangan kalian,” tegas Elisabeth di hadapan para peserta.

Screenshot 20260717 135841 Gallery
Kepala Disbudparakraf saat memberikan arahan kepada peserta pada saat penutupan kegiatan.

​Sebagai langkah konkret pasca-pelatihan, Disbudparakraf Mimika telah menyiapkan sejumlah program keberlanjutan:

Rencana Gelar Lomba & Rekaman Profesional: Dinas akan menggelar perlombaan musik tradisional dalam waktu dekat. Kelompok terbaik dengan karya lagu daerah Amungme dan Kamoro yang berkualitas akan difasilitasi hingga ke tahap rekaman profesional.

Fasilitasi Alat Musik: Pemerintah berkomitmen memberikan bantuan alat-alat musik tradisional guna merangsang semangat latihan para pemuda.

Penyelamatan Budaya: Program ini ditargetkan mampu membendung dominasi musik modern nirkabel (bluetooth) yang mulai menggeser eksistensi tarian Seka dan alat musik asli di wilayah pemukiman seperti SP 1, SP 6, Opitawak, Kebon Sirih, hingga Kokoa.

​Langkah taktis Disbudparakraf Mimika ini disambut dengan haru dan apresiasi tinggi oleh para peserta. Erik Magai, perwakilan peserta dari suku Amungme, menyampaikan rasa terima kasihnya sekaligus mengakui tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.

“Jujur, kami juga sadar bahwa kami sudah mulai melupakan kebudayaan sendiri, terutama yang lahir dan besar di kota karena kurangnya edukasi seni di lingkungan rumah. Kami sangat berterima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang telah peduli dan membangkitkan kembali jati diri kami,” ungkap Erik.

Screenshot 20260717 135819 Gallery
Erik salah satu peserta perwakilan dari suku Amungme menyampaikan pesan kepada Disbudparakraf pada saat penutupan kegiatan Pelatihan Musik Tradisional tersebut.

Demi keberlanjutan program pelestarian budaya ini, para peserta menitipkan beberapa rekomendasi penting kepada pihak dinas, pertama Pelaksanaan Pelatihan Jilid 2: Berharap program ini berkelanjutan dan tidak berhenti pada pelatihan pertama saja.

Kedua, Kesiapan Alat Musik bagi Pemateri: Memastikan ketersediaan alat musik khas yang lengkap saat praktik (seperti alat musik Pingkol).

Ketiga, Penambahan Instruktur Lokal: Menambah jumlah pemateri khusus suku Amungme agar transfer ilmu berjalan lebih maksimal.

Keempat, Fasilitasi Sanggar & Perajin Kampung: Memohon bantuan peralatan untuk sanggar lokal serta melobi perajin di kampung-kampung untuk memproduksi kembali alat musik tradisional yang sudah mulai langka.

Screenshot 20260717 135856 Gallery
Salah satu kelompok mempertunjukan nyanyian dan music tradisional yang dipelajari.

​Dengan suksesnya penyelenggaraan pelatihan ini, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika telah meletakkan batu pertama yang kokoh bagi lahirnya generasi baru pemelihara melodi leluhur di Tanah Amungsa Bumi Kamoro. (Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *