​MANASARI — Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 WIT di halaman Kantor Distrik Mimika Timur Jauh. Riuh suara masyarakat perlahan menggantikan keheningan usai serangkaian prosesi upacara penurunan bendera Merah Putih. Sore itu, tak ada seorang pun yang sekadar menjadi penonton. Semua bergerak, bahu-membahu dalam satu ritme kerja yang erat.
​
Di satu sudut, beberapa warga sibuk merambah semak mencari daun pisang segar untuk alas peradatan. Di sudut lain, cangkul dan sekop beradu dengan tanah, menggali lubang untuk persiapan tradisi Barapen atau bakar batu.

Suasana kian hidup ketika mama-mama dengan jemari terampil mulai membersihkan tumpukan umbi-umbian dan sayuran, sementara sekelompok pria menyelesaikan pemotongan tiga ekor babi berukuran besar. Asap tipis membubung saat bulu-bulu binatang itu dibersihkan di atas daun-daun kering yang dibakar.
​
Hari beranjak gelap, namun semangat warga tak mengendur. Di tengah nyala api yang mulai membumbung tinggi membakar susunan kayu dan batu, para tukang sibuk menyambung kabel-kabel listrik untuk menerangi area lapangan.
​
Gotong royong antara Suku Amungme dan Suku Kamoro malam itu menjadi pemandangan indah yang jarang tersaji. Kendati langit hanya dihiasi bayang bulan sabit yang remang, lidah api dari tengah lapangan mampu memancarkan cahaya kehangatan yang menerangi seluruh pelosok tempat acara. Sorak-sorai warga melambung tinggi ke udara, berpadu dengan gemertak kayu yang terbakar.
​

Ketika batu-batu sungai mulai membara, prosesi dimulai. Satu per satu batu panas dipindahkan ke dalam lubang beralas terpal dan daun-daunan mentah. Daging babi, sayur-mayur, serta umbi-umbian disusun berselang-seling secara presisi—dilapisi daun pisang dan ditindih kembali dengan batu panas hingga akhirnya ditutup rapat bagai benteng.
​

Kehangatan Tarian Seka dan Wisisi
​

Menunggu hidangan matang adalah ritual kegembiraan tersendiri. Ditemani derap musik yang berdentum, suasana malam berubah menjadi panggung pesta rakyat. Langkah kaki bersahut-sahutan; tidak hanya tarian Seka khas pesisir yang menggema, tetapi juga tarian Wisisi khas pegunungan yang riuh diikuti anak-anak muda hingga para tetua.
​
Malam itu, langit Manasari menjadi saksi bisu bersatunya dua suku besar Mimika dalam harmoni barapen dan tarian. Tanpa rasa lelah, warga terus berlarian dan berkerumun setiap kali irama musik berganti.
​
Tepat pukul 00.25 WIT, Kepala Distrik Mimika Timur Jauh, Priska Kuum, mengambil pengeras suara untuk menghentikan sementara tarian.
​
“Musik kita hentikan sementara waktu, supaya kita sama-sama angkat hasil bakar batu ke lapangan sini untuk dibagi dan kita makan bersama-sama,” seru Priska di hadapan warganya.

​Dengan telaten, Priska membagi warga berdasarkan kelompok kampung dan instansi. Di bawah cahaya rembulan malam, ribuan masyarakat duduk rapi mengelilingi lapangan luas, menantikan hidangan matang yang dinanti sejak sore.


​Catatan Sejarah Baru di Ibu Kota Distrik

​Bagi masyarakat Distrik Mimika Timur Jauh, malam itu bukan sekadar perayaan rutin. Kepala Kampung Omawita, Vitalis Ipi, mengungkapkan bahwa ritual barapen ini adalah peristiwa bersejarah yang baru pertama kali digelar di Ibu Kota Distrik.
​
“Secara tradisi, barapen merupakan kebudayaan masyarakat Suku Amungme, sedangkan warga yang mendiami Distrik Mimika Timur Jauh mayoritas adalah Suku Kamoro. Ini bisa terjadi karena Ibu Kepala Distrik berasal dari Suku Amungme. Hari ini, barapen akhirnya bisa diadakan di sini,” ungkap Vitalis.

​Vitalis menambahkan, keberadaan barapen memberi pelajaran dan wawasan budaya baru, khususnya bagi generasi muda suku pesisir yang sebelumnya hanya bisa mendengar cerita tentang tradisi tersebut.
​
Malam yang makin larut tak menyurutkan khidmatnya acara. Kebersamaan ribuan warga yang duduk rapi menanti makanan bergizi itu menghadirkan nuansa kedamaian yang mendalam. Tak lama, tumpukan barapen dibongkar. Makanan hangat dibagikan secara merata. Meski setiap orang mendapatkan porsi sederhana, tak ada satu pun warga yang terlewat. Semua menikmati berkat Tuhan dengan penuh rasa syukur di bawah langit Manasari yang bersahabat.
​
Usai santap bersama, lapangan tak lantas sepi. Musik kembali dinyalakan, memicu kembali sorak-sorai tarian Seka dan Wisisi hingga dini hari. Sampai pukul 03.40 WIT, ketika sebagian warga mulai melangkahkan kaki pulang untuk merebahkan badan, sebagian anak muda masih tampak bertahan—menari dan merayakan persatuan yang langka itu hingga menjelang fajar.

Penulis: Jefri Manehat