MIMIKA_ Konflik antarkelompok antara kubu Newenggaleng dan kubu Dang di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kembali pecah. Meski sempat disepakati perdamaian dua bulan lalu, bentrokan susulan yang memanas hingga Kamis (27/8/2026) sore ini telah merenggut total 22 korban jiwa.

Kapolsek Kwamki Narama, Iptu Yusak Sawaki, membenarkan bahwa kedua pihak masih terus saling menyerang menggunakan senjata tradisional seperti panah dan alat tajam.

“Hari ini kembali ada korban meninggal dari kubu Newenggaleng. Hingga saat ini, akumulasi korban jiwa mencapai 22 orang, dengan rincian 13 orang dari kubu Dang dan 9 orang dari kubu Newenggaleng,” ujar Yusak saat dikonfirmasi, Kamis sore.

Eskalasi bentrokan hari ini dipicu usai prosesi ritual adat. Sebelumnya, kepolisian bersama Satbinmas Polres Mimika mengawal jenazah korban dari RSUD Mimika menuju lokasi kubu Newenggaleng untuk dikremasi. Namun, sehabis ritual adat pemakaman tersebut, massa kubu Newenggaleng kembali melepaskan tembakan panah ke arah kubu Dang hingga aksi saling serang tak terelakkan.

Pihak kepolisian sejatinya telah berulangkali mengimbau kedua pihak untuk melakukan peletakan senjata. Aparat juga memberi batas waktu satu minggu ke depan sebelum menggelar operasi penertiban secara tegas dan terukur.

“Kami terus laporkan perkembangan situasi ke pimpinan untuk mengambil langkah hukum selanjutnya. Kami sangat berharap kedua belah pihak dapat menahan diri agar tidak ada lagi korban jiwa,” tegas Yusak.

​Konflik komunal yang telah membara selama delapan bulan terakhir ini sebenarnya sempat diredam melalui jalur diplomasi adat. Pada 12 Januari 2026, Pemkab Mimika bersama Pemkab Puncak menggelar prosesi adat patah panah dan panah babi. Namun, dendam lama membuat perdamaian pertama tersebut kandas.

Upaya kedua kemudian diinisiasi pada 24 Juni 2026 lalu. Pemkab Mimika, Pemkab Puncak, Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, DPR Papua Tengah, serta jajaran TNI-Polri kembali memfasilitasi prosesi damai yang dihadiri langsung oleh Bupati Mimika Johannes Rettob.

Saat itu, Pemerintah Daerah bahkan berencana mencanangkan Distrik Kwamki Narama sebagai ‘Zona Damai’. Namun, kesepakatan tersebut hanya bertahan dua bulan sebelum akhirnya bentrokan berdarah kembali meletus.

Penulis : Fernando Sihasale

Editor : Jefri Manehat