MIMIKA_ Puskesmas Mimika Timur terus memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat melalui kolaborasi rapat bersama Pemerintah Distrik Mimika Timur. Dukungan ini mencakup program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penguatan kader Posyandu, hingga penyediaan layanan kesehatan langsung ke kampung-kampung.

​Kepala Puskesmas Mimika Timur, Onna Bunga, menjelaskan bahwa dukungan dari Distrik Mimika Timur untuk program PMT periode Juni hingga September 2026 disalurkan dalam bentuk bahan makanan mentah bernilai sekitar Rp200 juta, bukan uang tunai.

​Bantuan tersebut berupa kacang hijau, gula, telur, dan susu. Seluruh bahan diolah oleh tim Puskesmas untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya anak-anak dan ibu hamil yang mengalami kondisi gizi buruk, gizi kurang, atau stunting.

​“Distrik memberikan bantuan dalam bentuk barang mentah yang nantinya dikelola oleh teman-teman di Puskesmas. Untuk susu, porsinya disesuaikan dengan kebutuhan penerima, termasuk bayi yang belum bisa mengonsumsi makanan padat,” kata Onna.

Pemantauan Gizi dan Apresiasi Kader

​Dalam penanganan masalah gizi dan stunting, Puskesmas Mimika Timur saat ini mendampingi serta memantau sekitar 400 anak yang tersebar di satu kelurahan dan lima desa. Onna menekankan, angka tersebut merupakan total anak yang dipantau dan masih harus dipilah berdasarkan tingkat kriteria pertumbuhan masing-masing.

​“Angka stunting itu dinilai secara menyeluruh. Dari data itu baru kami pilah-pilah sesuai kategorinya,” ujarnya. Pemantauan serupa juga diterapkan pada ibu hamil yang mengalami masalah gizi atau gangguan kesehatan lain.

​Selain bahan makanan, Pemerintah Distrik Mimika Timur juga memberikan dana apresiasi bagi para kader Posyandu atas dedikasi mereka dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Bantuan ini disalurkan langsung oleh Puskesmas kepada kader.

​“Walaupun jumlahnya tidak besar, bantuan ini adalah bentuk apresiasi dari Bapak Distrik untuk seluruh kader yang disalurkan melalui Puskesmas,” kata Onna.

​Dukungan bahan makanan turut mendorong partisipasi warga dalam kegiatan Posyandu berbasis siklus hidup—mulai dari bayi, balita, ibu hamil, hingga lansia. Wilayah Muare mencatatkan tingkat kunjungan tertinggi dengan rata-rata 300 orang per bulan hingga Agustus 2026, sementara kunjungan di wilayah Hiripau dan Wania relatif lebih rendah.

Tantangan Malaria dan ISPA

​Di samping penanganan gizi, Puskesmas Mimika Timur masih dihadapkan pada tingginya angka penyakit menular, utamanya malaria dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

​Untuk kasus malaria, angka kejadiannya masih tergolong tinggi dengan rata-rata hampir 300 kasus per bulan. Onna mengungkapkan bahwa faktor lingkungan, perubahan cuaca, keterbatasan air bersih, hingga kebiasaan warga yang masih memanfaatkan air kali dan hunian yang padat menjadi pemicu utama.

​“Angka malaria terakhir hampir menyentuh 300 kasus per bulan. Ini masih tinggi karena kondisi lingkungan, cuaca, serta minimnya akses air bersih,” jelasnya.

​Sementara itu, kasus ISPA mencatatkan rata-rata sekitar 100 kasus per bulan, baik dari layanan dalam gedung maupun luar gedung. Peningkatan kasus ini dipicu oleh faktor cuaca ekstrem, kabut, paparan asap rokok, penggunaan tungku di dalam rumah, serta masih rendahnya kesadaran warga dalam memakai masker.

​“Edukasi terus kami berikan agar warga mengurangi kebiasaan merokok dan mau memakai masker. Namun, tentu perubahan perilaku masyarakat membutuhkan waktu dan proses,” tambah Onna.

Strategi Layanan Door-to-Door

​Menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Mimika Timur menyiapkan strategi pelayanan kesehatan langsung ke kampung-kampung melalui metode door-to-door (mendatangi rumah ke rumah) untuk penyuluhan sekaligus pengobatan.

​Jadwal kunjungan lapangan juga disesuaikan dengan pola aktivitas warga lokal. Di daerah tempat sebagian besar warga bekerja atau mencari nafkah pada pagi hari, tim medis akan mengalihkan waktu pelayanan pada sore hari.

​“Saat turun ke lapangan, kami menerapkan sistem door-to-door. Waktu kunjungannya kami sesuaikan agar tidak bentrok dengan jam kerja masyarakat,” pungkas Onna.

​Langkah ini diharapkan dapat mendekatkan akses pelayanan kesehatan, memperkuat tindakan pencegahan, serta mempercepat penanganan penyakit dan masalah gizi di wilayah Mimika Timur.