
MIMIKA — Kepala Distrik Mimika Timur Jauh, Priska Kuum, mengecam keras aksi perusakan fasilitas SMP Negeri Omauga serta tindakan pengancaman terhadap guru dan tenaga kesehatan (nakes) di Manasari. Insiden tersebut terjadi saat bentrok antarwarga Kampung Fanamo dan Omawita pecah pada Minggu (4/10/2026) lalu.
Dampak dari aksi pengancaman dan perusakan tersebut memaksa seluruh guru dan nakes dievakuasi ke kota demi menjamin keselamatan mereka, yang mengakibatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan di wilayah tersebut lumpuh total.
”Saya mau kasih tahu kalian semua yang merasa diri hebat, kalian itu seharusnya menjadi contoh untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di sana, termasuk guru-guru dan nakes, bukan sebaliknya malah mengancam dan merusak fasilitas sekolah,” tegas Priska saat memimpin mediasi bersama pihak terkait dan para pelaku di Kantor Polsek Mimika Timur, Kamis (8/10/2026).
Dengan nada geram, Priska menyayangkan tindakan warga yang justru merusak daerahnya sendiri. Ia menekankan pentingnya menghargai dedikasi para tenaga pendidik dan medis yang rela meninggalkan keluarga demi melayani masyarakat pedalaman.
”Itu tanah kalian sendiri, bukannya punya hati untuk membangun, malah kalian sendiri yang bikin kacau sampai fasilitas sekolah dirusak. Terutama guru-guru, itu harus kalian hormati. Berkat pengabdian mereka, anak-anak kita di pedalaman bisa mengenyam pendidikan dengan baik, menjadi cerdas, dan tidak tertinggal,” ujar Priska.
Priska juga sorotan tajam pada keterlibatan kaum terpelajar dan remaja dalam aksi tersebut. Ia menegaskan tidak akan segan membawa kasus ini ke jalur hukum jika kejadian serupa terulang kembali.
”Saya sangat marah. Yang mengancam dan merusak fasilitas sekolah justru mereka yang terpelajar, bahkan banyak yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Kalian yang terpelajar ini seharusnya menjadi contoh bagi orang tua dan anak-anak lain. Jika para pelaku kembali berulah dan merusak fasilitas pemerintah, jeruji besi tempatnya,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Kampung Fanamo, Valentinus Mitowo, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas peristiwa yang melibatkan warga dari kedua kampung.
”Mewakili masyarakat kedua kampung, saya menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah, para guru, dan nakes atas ketidaknyamanan yang terjadi hingga pelayanan harus lumpuh. Kami sangat kecewa atas aksi perusakan dan pengancaman ini. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga dan kami berkomitmen menjaga ketertiban warga serta menjamin tidak ada lagi gangguan terhadap aktivitas belajar mengajar,” ungkap Valentinus.
Senada dengan Valentinus, Kepala Kampung Omawita, Vitalis Ipi, turut prihatin atas tindakan anarkis yang dilakukan warga. Ia berjanji akan bersinergi untuk mengembalikan situasi kondusif di wilayahnya.
”Kami sangat prihatin dan menyayangkan kelakuan warga yang merusak fasilitas sekolah. Ke depan, kami berkomitmen penuh untuk menjamin jaminan rasa aman bagi para guru dan nakes agar mereka bisa kembali bertugas dan pelayanan publik dapat berjalan normal,” kata Vitalis.







Tinggalkan Balasan