TIMIKA — Berdasarkan pembaruan data Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah per 22 September 2026, Kabupaten Mimika mencatatkan jumlah kasus positif malaria tertinggi di antara delapan kabupaten di wilayah tersebut.

Mimika tergolong dalam kategori endemik tinggi III dengan total 118.314 kasus positif malaria serta Annual Parasite Incidence (API) mencapai 556,04 per 1.000 penduduk.

Data yang sama juga mencatat sebanyak 2.665 ibu hamil terkonfirmasi positif malaria, sementara capaian pengobatan standar berada di angka 90,27% dari target nasional sebesar 95%.

Melihat situasi tersebut, Manager Program Yayasan Amungsa Cares Papua, Febian Kakisina menegaskan bahwa angka-angka ini harus menjadi dasar aksi nyata dan tidak boleh berhenti sekadar sebagai catatan statistik.

YACP menekankan pentingnya komunikasi publik yang konsisten, penemuan kasus sedini mungkin, pengobatan tuntas sesuai standar, perlindungan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak, serta pengendalian lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk.

​”Angka 118.314 bukan sekadar statistik. Data harus terdengar sampai ke keluarga, sekolah, kampung, ruang pelayanan, media, dan ruang kebijakan. Program KAS BUNYI dirancang agar informasi malaria berubah menjadi tindakan: temukan kasus lebih cepat, obati sesuai standar sampai tuntas, lindungi kelompok rentan, dan kendalikan lingkungan bersama,” ungkap Febian Kakisina dalam keterangan tertulis yang diterima Papuaeksklusif.com.

​Sebagai langkah konkret, YACP meluncurkan Program KAS BUNYI sebagai gerakan edukasi, kampanye publik, dan advokasi yang menghubungkan data kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Rangkaian program ini mencakup edukasi di 10 sekolah, sosialisasi berbasis distrik, kampanye massa, pembuatan podcast, hingga produksi film dokumenter untuk memperluas pemahaman publik.

“Melalui gerakan ini, masyarakat didorong untuk mengenali gejala awal, segera memeriksakan diri, menjalani pengobatan hingga tuntas, dan menjaga kebersihan lingkungan,” kata Febian.

​Di sisi lain, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah mengidentifikasi sejumlah tantangan besar dalam penanganan malaria, seperti tingginya mobilitas penduduk, akses geografis yang sulit, keterbatasan tenaga medis, hingga risiko resistensi obat antimalaria.

Menurut Febian, daftar tantangan tersebut membuktikan bahwa penanganan malaria tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan partisipasi aktif dari sekolah, kader, media, dunia usaha, hingga pemerintah.

​Meski menghadapi tantangan berat, indikator layanan di Mimika mencatatkan kinerja teknis yang cukup tinggi, dengan konfirmasi laboratorium sebesar 99,81% dan kelengkapan laporan mencapai 93,75%. Dalam hal penemuan kasus, tenaga kesehatan menyumbang 84,86% dan kader komunitas berkontribusi sebesar 15,14%.

Untuk mempercepat eliminasi malaria, YACP mendorong penguatan komunikasi risiko di ruang publik, deteksi dini melalui peran kader, penutupan kesenjangan pengobatan menuju target 95%, perlindungan ketat bagi kelompok rentan, serta koordinasi lintas sektor yang berbasis data terintegrasi.

​”Keberhasilan eliminasi malaria di Mimika membutuhkan gerak bersama yang konsisten dari tingkat kabupaten hingga kampung. Melalui Program KAS BUNYI, YACP menyatakan kesiapannya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan demi mewujudkan Mimika yang bebas malaria,” ujar Febian.