Stunting dan Malaria Jadi Ancaman Ganda Anak di Mimika

malaria

MIMIKA_ Kasus malaria dan stunting atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, yang ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya di Kabupaten Mimika masih menjadi masalah utama.

Direktur Amungsa Foundation, dr Enny Kenangalem menyebut masalah stunting di Kabupaten Mimika masih menjadi masalah utama, terutama pada anak usia di bawah dua tahun.

Kondisi ini diperparah oleh tingginya paparan penyakit infeksi seperti malaria yang secara langsung mempengaruhi status gizi anak dan ibu hamil.

“Kejadian stunting dan infeksi malaria sangat terkait erat, dimana infeksi malaria dapat memperburuk kondisi gizi anak, demikian sebaliknya stunting dapat mempengaruhi ketahanan tubuh menghadapi kejadian infeksi malaria berulang,” ungkap Enny dalam keterangannya kepada papuaeksklusif.com.

Direktur Amungsa Foundation itu menyebut,  data menunjukkan bahwa 15,2% bayi di Mimika lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan asupan gizi anak yang ada dalam kandungan tidak tercukupi sehingga dapat menyebabkan anak lahir dengan BBLR. Lebih dari 60% ibu hamil di Mimika belum mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai standar, sehingga meningkatkan risiko anemia dan komplikasi kehamilan.

Dia melanjutkan, infeksi malaria pada anak yang berulang juga berkontribusi pada wasting yang berkembang menjadi stuting. Wasting adalah kondisi kekurangan gizi akut yang ditandai dengan penurunan berat badan yang cepat dan penurunan massa otot serta lemak tubuh.

Diterangkan, infeksi malaria pada anak yang berulang dapat menurunkan nafsu makan, mengganggu penyerapan nutrisi, dan menyebabkan penurunan berat badan.

“Kondisi ini berkontribusi pada terjadinya wasting yang kemudian berkembang menjadi stunting. Anak dengan kondisi gizi buruk lebih rentan terhadap infeksi, termasuk malaria,” kata Enny.

Meskipun layanan kesehatan dasar seperti Posyandu, Pustu dan  Puskesmas telah tersedia, namun demikian masih ada saja tantangan pada implementasi layanan, salah satunya terletak pada akses dan kualitas layanan, terutama di wilayah terpencil.

Faktor geografis yang sulit, keterbatasan sarana prasarana, serta kapasitas kader di tingkat kampung menjadi hambatan dalam optimalisasi layanan. Selain itu, kondisi sosial ekonomi masyarakat juga memengaruhi pola penyediaan dan konsumsi gizi keluarga.

“Layanan sebenarnya sudah ada, tetapi belum semua masyarakat bisa mengaksesnya secara optimal. Ini yang harus kita perbaiki bersama,” tambah dr Enny Kenangalem.

Dalam kondisi ini Direktur Amungsa Foundation itu menyarankan perlunya integrasi  dari semua sektor untuk menangani malaria dan stunting di Kabupaten Mimika yang menjadi momok.

Dalam upaya percepatan penurunan stunting harus dilakukan secara terintegrasi dengan program pengendalian malaria dan penyakit infeksi lainnya secara terpadu dengan semua stakeholder terkait, dengan dukungan penuh oleh pemerintah daerah, sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat terkait lainnya.

Integrasi dapat memutus “lingkaran risiko” antara gizi buruk dan penyakit yang saling memperparah kondisi anak.

Selain Langkah itu, dr. Enny juga mendorong masyarakat untuk mengambil langkah sederhana namun berdampak besar, seperti, enggunakan kelambu untuk mencegah malaria, jika kena malaria, minum obat secara teratur dan tuntaskan pengobatan tersebut, rutin memeriksakan kehamilan dan mengonsumsi Tablet Tambah Darah, memberikan ASI eksklusif dan makanan bergizi untuk anak, memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga dan aktif membawa anak ke Posyandu setiap bulan. (Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *