EKSKLUSIF_ Akhir- akhir ini Intalasi Rawat Darurat (IRD) pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika sering kebanjiran pasien yang mengakses IRD untuk mendapat layanan kesehatan secara darurat.
Direktur RSUD Mimika, dr. Antonius Pasulu menyebut membeludaknya pasien yang mengakses IRD terjadi dalam dua bulan terkahir yakni bulan September dan Oktober.
Diterangkan, masyarakat yang mengakses IRD RSUD Mimika bukan saja pasien yang memang kategori gawat darurat, sebagian besar pasien yang tidak tergolong gawat darurat juga mengakses ke IRD. Hal ini yang membuat IRD RSUD Mimika sering kebanjiran pasien.
“Data kami (RSUD) masyarakat atau pasien yang datang ke unit gawat darurat tanpa kondisi darurat sebenarnya atau False Emergency mencapai 48-49 persen,” terang dr. Anton secara eksklusif pada media ini pada Selasa (4/11/2025).
Menurutnya hal ini terjadi selain karena minimnya pemahaman masyarakat terkait fungsi IRD, serta kurangnya fasilitas pada fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi penyebab mengapa masyarakat lebih cenderung mengakses IRD untuk mendapat pelayanan kesehatan.
IRD RSUD adalah muara akhir dalam pemeriksaan kesehatan di tingkat Kabupaten, jika masyarakat dengan sakit tidak tergolong darurat, dapat memeriksakan diri pada fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Dia berharap hal ini juga dapat disosialisasikan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama, sehingga masyarakat bisa mengetahui fungsi IRD dan memahami bahwa RSUD adalah muara akhir dalam pelayanan kesehatan di Kabupaten Mimika
“Karena kurangnya pemahaman masyarakat terkait fungsi IRD sehingga masyarakat yang sakit langsung mengakses ke IRD untuk mendapat perawatan. Tapi kami tidak mungkin langsung menyuruhnya pulang, masyarakat yang ingin mendapatkan layanan di IRD, kami tetap memberikan pelayanan sambil memberikan edukasi bahwa pasien yang tidak dalam kondisi darurat bisa dapat mengakses fasilitas kesehatan pada tingkat pertama, seperti puskesmas dan klinik jika ada BPJS Kesehatan,” ujarnya.
Karena sering kebanjiran pasien di IRD, sering kali masyarakat atau keluarga pasien protes karena terlambat direspon oleh petugas.
Dijelaskan, petugas kesehatan yang ditempatkan di IRD melayani berdasarkan tingkat kegawatannya bukan berdasarkan siapa yang duluan datang.
“Untuk mengantisipasi agar IRD tidak terus kebanjiran, di depan IRD ada petugas TRIAGE yang bertugas untuk menilai pasien apakah masuk kategori gawat darurat atau bukan, jika bukan maka akan diarahkan ke poli yang sudah disiapkan didepan IRD sehingga pasien yang datang ke IRD tetap terlayani, sambil tetap mengedukasi pasien tersebut untuk dapat mengakses faskes pertama atau poli RSUD di pagi hari,” terangnya.
Menurutnya, agar IRD tidak terus kebanjiran pasien yang mengakses layanan kesehatan disana, fasilitas kesehatan tingkat pertama perlu dimaksimalkan, sehingga masyarakat dengan sakit yang tidak masuk dalam kategori darurat bisa mengakses pada tingkat pertama saja tidak harus langsung ke IRD RSUD.
“Kami akan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk melihat hal ini sehingga masyarakat bisa terlayani dengan baik,” terangnya. (Redaksi)




