TIMIKA – Guru Agama Kristen SMP Negeri 11 Mimika, Lusiana Nada, menyuarakan pentingnya penguatan pendidikan karakter bagi anak-anak di Timika. Ia menilai benteng moral anak saat ini kian terancam oleh tingginya paparan media sosial dan pergaulan lingkungan.

​Hal tersebut disampaikan Lusiana di sela-sela kegiatan Pembentukan Karakter yang berlangsung di Hotel Grand Tembaga, Timika, Rabu (2/9/2026).

​”Kami dari pihak sekolah sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini. Harus diakui, karakter kewarganegaraan pada anak-anak di Timika saat ini masih terbilang minim,” ujar Lusiana.

​Ia menyoroti maraknya platform digital seperti Instagram yang kerap menyuguhkan konten tanpa filter. Menurutnya, dominasi pengaruh negatif medsos rentan memicu pergeseran perilaku remaja, termasuk maraknya aksi tawuran.

​Lusiana menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak bisa dibebankan penuh kepada guru di sekolah. Fondasi utama justru berada di tangan orang tua dan lingkungan keluarga.

​”Pendidikan karakter itu mula-mula tumbuh dari dalam rumah. Bagaimana anak mengenal ajaran agamanya, baik Kristen maupun Islam itu dimulai dari keluarga,” tuturnya.

​Dia menambahkan bahwa mendidik anak tidak harus lewat tindakan fisik, melainkan melalui nasihat, teladan sikap, dan komunikasi yang persuasif dari orang tua.

​Guna menekan pengaruh negatif teknologi, Lusiana mendorong penguatan nilai-nilai kewarganegaraan dan Pancasila secara berkelanjutan di sekolah. Ia mengusulkan agar penanaman karakter ini dioptimalkan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru.

​”Nilai-nilai Pancasila seperti pada masa PMP dulu perlu dihidupkan kembali agar tidak sekadar jadi teori, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Lusiana.

​Ia berharap ada sinergi yang lebih kuat antara orang tua, guru, dan sekolah untuk mendampingi generasi muda agar mereka tidak salah langkah dalam mencari jati diri.