MIMIKA_ Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika kembali turun tangan untuk menyelesaikan konflik atau perang saudara antara Suku Kewenggalen dan Suku Dang di Distrik Kwamki Narama. Pertikaian melelahkan antar kedua kubu ini diketahui telah berlangsung selama kurang lebih delapan bulan.
Guna menyudahi ketegangan tersebut, pemerintah daerah bahkan harus memfasilitasi upaya perdamaian hingga dua kali.
Sebelumnya, Pemkab Mimika bersama Pemkab Puncak telah memfasilitasi upaya damai pertama yang ditandai dengan prosesi adat patah panah dan panah babi pada 12 Januari 2026 lalu. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. Bentrokan kembali pecah dan kembali memakan korban jiwa lantaran masih adanya bara dendam di antara kedua belah pihak.
Demi menghentikan konflik yang berkepanjangan, Pemkab Mimika bersama jajaran TNI-Polri, Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, dan DPR Papua Tengah kembali menginisiasi prosesi perdamaian kedua pada Rabu (24/6/2026).
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Mimika Johannes Rettob, Ketua MRP Papua Tengah Agus Anggaibak, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman, Dandim 1710 Mimika Letkol Inf Jozanda, Anggota DPRP Papua Tengah Yohanes Kemong dan Gerson Wandikbo, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Usai prosesi adat berlangsung, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk memulihkan wilayah tersebut. Langkah awal yang akan diambil adalah mencanangkan Distrik Kwamki Narama sebagai zona damai.
Tak tanggung-tanggung, pemerintah juga menargetkan untuk menyulap Kwamki Narama menjadi salah satu destinasi wisata unggulan bagi masyarakat Mimika di masa depan.
“Setelah perdamaian ini, kita akan membangun Kwamki Narama agar ke depan daerah ini bisa menjadi tujuan liburan masyarakat,” ujar Bupati Johannes.
Namun, ia mengingatkan bahwa realisasi rencana besar ini sangat bergantung pada komitmen dan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan.
Saya minta masyarakat mendukung pembangunan di Kwamki Narama, dan persoalan seperti ini tidak boleh terjadi lagi di masa depan. Saya tegaskan, prosesi perdamaian hari ini harus menjadi yang terakhir. Tidak boleh ada lagi perang saudara,” pungkasnya. (Redaksi)





