
MAPURUJAYA — Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, menghadiri perayaan pesta rakyat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Emas Mapurujaya ke-50 yang berlangsung di Pelabuhan Perikanan Poumako, Sabtu (22/8/2026).
Acara yang diinisiasi oleh komunitas Labema (Lahir Besar Mapurujaya) ini dirangkaikan dengan penyambutan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Dalam sambutannya, Emanuel Kemong memberikan pesan mendalam kepada para pemuda dan masyarakat yang tergabung dalam Labema. Ia mengingatkan pentingnya menjaga akar sejarah dan menghormati suku asli Kamoro di wilayah setempat.
“Kalian ini lahir dan besar di tengah-tengah suku Kamoro. Di tanah tempat tinggal suku Kaogapu, Muare, Pigapu, Hiripau, hingga Tipuka. Ini yang paling penting untuk selalu diingat,” tegas Emanuel di hadapan para tokoh masyarakat dan tamu undangan.
Ia mengapresiasi kehadiran wadah generasi muda seperti Labema maupun Labeti yang menjadi ruang berkumpulnya warganya. Wakil Bupati Mimika ini berpesan agar para anak muda yang telah berhasil meraih jabatan, profesi, maupun kesuksesan di berbagai bidang dapat merangkul masyarakat tempatan.
“Bagi anak-anak Labema yang sudah punya jabatan, kewenangan, menjadi guru, tenaga kesehatan, atau pengusaha, pesan saya jangan lupa kepada orang asli di tempat ini. Rangkul mereka, dampingi mereka sebagaimana yang telah dirintis oleh para tokoh terdahulu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Emanuel menekankan pendekatan persuasif dan kekeluargaan dalam membimbing masyarakat lokal.
Menurutnya, segala bentuk persoalan harus diselesaikan dengan bimbingan tanpa kekerasan.
“Jika ada yang keliru atau salah, beri mereka nasihat dan arahan yang baik. Ingatkan mereka dengan cara merangkul, bukan dengan kekerasan. Berikan mereka tempat yang baik, itu menjadi tanggung jawab kalian,” tambahnya.
Emanuel juga menggarisbawahi pentingnya menjaga persatuan dan toleransi antar-etnis di Mimika, di mana warga dari latar belakang Jawa, Makassar, Sulawesi, Kalimantan, hingga daerah lainnya hidup berdampingan secara harmonis. Perayaan HUT ke-50 ini ditutup dengan momen kebersamaan lewat tradisi makan tamelo bersama seluruh elemen masyarakat.









Tinggalkan Balasan