MIMIKA – Fasilitas air bersih yang diharapkan menjadi solusi bagi warga di Distrik Mimika Barat Tengah kini kondisinya memprihatinkan. Bukannya mengalirkan manfaat, tiga titik fasilitas air bersih di wilayah tersebut justru mangkrak dan rusak dalam waktu singkat setelah dibangun.
Ketiga fasilitas tersebut berlokasi di Kampung Uta, Ibu Kota Distrik, dan Kampung Mupuruka. Ironisnya, proyek yang baru tuntas pada tahun 2025 itu kini sudah tidak lagi berfungsi.
Kejadian paling mencolok terjadi pada fasilitas air bersih di belakang Kantor Distrik. Proyek ini awalnya dibangun pada tahun 2011 namun sempat mangkrak selama bertahun-tahun, hingga akhirnya diperbaiki kembali pada tahun 2025. Namun, fungsionalitasnya hanya bertahan seumur jagung.

Kepala Distrik Mimika Barat Tengah, Sem Naroba menyebut air hanya mengalir saat seremoni peresmian yang dihadiri Bupati, namun terhenti total tak lama setelah rombongan pejabat meninggalkan lokasi.
“Air itu hanya mengalir saat peresmian saja. Begitu Bupati dan rombongan kembali, airnya juga ikut mati. Fasilitasnya sudah dibangun megah, tapi masyarakat belum sempat mengonsumsinya,” ungkap Sem.
Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari anggota DPRK Mimika Mariunus Tandiseno. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Mimika untuk mengevaluasi kinerja kontraktor dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Menurutnya, anggaran miliaran rupiah yang bersumber dari uang rakyat terkesan mubazir karena kualitas pekerjaan yang rendah.

“Pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap kontraktor. Jangan sampai fasilitas yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah rusak begitu saja tanpa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegas Mariunus.
Selain masalah kualitas fisik, Mariunus menyarankan agar OPD terkait memberikan pelatihan teknis bagi masyarakat setempat. Ia menilai, ketiadaan tenaga teknis lokal menjadi salah satu penyebab fasilitas yang rusak ringan akhirnya dibiarkan mangkrak hingga rusak berat.
“Saat membangun fasilitas, libatkan dan latih masyarakat setempat sebagai teknisi. Jadi kalau ada gangguan kecil, bisa langsung diperbaiki tanpa harus menunggu tim dari kota yang memakan waktu lama,” pungkasnya.
Sangat disayangkan, bangunan yang secara fisik terlihat mewah dan modern tersebut kini hanya menjadi monumen bisu yang tidak mampu menjawab kebutuhan dasar warga akan air bersih. (Redaksi)





