ATUKA – Puskesmas Atuka terus berkomitmen penuh dalam menekan angka kasus Tuberkulosis (TB) di wilayah kerjanya. Dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas Atuka, Julia Tahitu, pihak puskesmas menerapkan strategi penjaringan aktif dan pengawasan ketat terhadap pola pengobatan pasien guna memastikan kesembuhan total.

Julia Tahitu menjelaskan bahwa Puskesmas Atuka memberlakukan pemeriksaan dahak bagi setiap pasien bergejala batuk yang datang berobat, mulai dari bayi hingga lansia. Untuk anak-anak, pemeriksaan dilakukan melalui metode tuberkulin. Sampel dahak tersebut kemudian dikirim ke RSUD Mimika untuk diperiksa menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM), atau diperiksa langsung di laboratorium Puskesmas Atuka.


“Jika hasil pemeriksaan menyatakan positif, kami langsung bergerak cepat melalui grup koordinasi khusus TB. Hubungan komunikasi yang intens antara Puskesmas dan Pustu (Puskesmas Pembantu) sangat krusial, mengingat tantangan geografis wilayah kami yang jauh dan harus diakses menggunakan perahu,” ujar Julia, Kamis (15/10/2026).


Setelah hasil terkonfirmasi, penanggung jawab program TB dan tim farmasi puskesmas segera menyiapkan obat-obatan. Obat tersebut dikirimkan ke Pustu, atau diambil langsung oleh petugas Pustu untuk diantarkan kepada pasien disertai penunjukan Pengawas Menelan Obat (PMO).


Puskesmas Atuka menerapkan sistem distribusi obat secara berkala per dua minggu, alih-alih memberikan satu paket obat sekaligus. “Setiap dua minggu sekali saat pengambilan obat, kami melakukan evaluasi, menimbang berat badan pasien, dan memastikan apakah obat dikonsumsi dengan patuh atau tidak,” tambahnya.


Tantangan lain yang dihadapi adalah mobilitas penduduk yang tinggi. Seringkali pasien berpindah tempat ke area pendulangan (Pemako) atau ke wilayah kota. Menghadapi situasi ini, Puskesmas Atuka membagi petugas ke dalam dua tim kerja (Tim A dan Tim B) untuk melacak keberadaan pasien, termasuk ke wilayah pendulangan, agar pengobatan minimal selama 6 bulan tidak terputus.

Berdasarkan data kesinambungan program dari tahun 2025, Puskesmas Atuka menangani total 41 pasien. Dari jumlah tersebut, 37 pasien dinyatakan selesai pengobatan (sembuh), 1 pasien meninggal dunia, dan 3 pasien dinyatakan putus obat akibat kendala jangkauan di area pendulangan atas (Mil 50). Mayoritas pasien yang ditangani berada pada usia produktif, meski ada pula beberapa kasus pada anak-anak.


Terkait faktor penyebab tingginya kasus, Julia menggarisbawahi pentingnya perbaikan pola hidup dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat. Angka kasus yang terlihat tinggi juga merupakan dampak positif dari masifnya upaya penjaringan dini yang dilakukan oleh puskesmas. Melalui integrasi data sistem online SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis), penanganan pasien menjadi lebih terkontrol.


Julia juga memberikan apresiasi mendalam kepada warga di lima kampung wilayah kerja Puskesmas Atuka. Menurutnya, edukasi yang dilakukan secara persuasif telah berhasil menghapus stigma negatif terhadap penyakit TB. Masyarakat kini menerima keberadaan pasien dengan baik tanpa melakukan diskriminasi atau pengasingan.


“Kami selalu menekankan kepada masyarakat bahwa TB ini adalah penyakit menular, tetapi bisa disembuhkan total. Kuncinya adalah kepatuhan minum obat secara tuntas dan perubahan perilaku hidup, termasuk berhenti merokok. Dukungan keluarga dan kesadaran lingkungan sangat membantu seluruh petugas medis dalam memantau pengobatan pasien hingga sembuh tanpa ada yang putus obat,” pungkas Julia.