MIMIKA_ Pasca konflik yang berujung saling serang menggunakan senjata tajam di Kapiraya akibat persoalan tapal batas pada Rabu (11/2/2026) lalu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Rampeani Rachman langsung turun ke lokasi memastikan kondisi masyarakat disana, Sabtu (14/2/2026).
Disana, Rampeani melihat konflik itu tidak hanya membawa ketakutan bagi masyarakat, tetapi membawa petaka bagi dunia pendidikan disana.
“Setelah konflik kemarin, anak-anak tidak bersekolah karena ketakutan. Bagaimana anak-anak mau mendapat pendidikan yang layak, jika anak-anak terus dibayangi dengan rasa ketakutan,” ujar Rampeani kepada wartawan di Kapiraya, Sabtu (14/2/2026).
Anggota Komisi III DPRK Mimika itu kuatir, jika persoalan tapal batas tidak juga diselesaikan, maka pendidikan disana akan lumpuh dan mimpi anak-anak akan terkubur rapat oleh persoalan tapal batas yang tidak berujung.
Dia berharap Pemerintah Provinsi Papua Tengah segera duduk bersama kepala daerah dari tiga Kabupaten yakni Kabupaten Mimika, Pemerintah Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Deiyai untuk mencari solusi alternatif sambil menunggu keputusan dari Pemerintah pusat sehingga anak-anak dan masyarakat disana tidak terus dibayang-bayangkan dengan rasa takut, dan anak-anak disana kembali mendapatkan pendidikan yang layak.(Redaksi)













