Oleh : Armyndo Tlali
MIMIKA_ Dunia semakin modern dengan tawaran-tawaran teknologi yang semakin canggih. Krisis etika di era digital merupakan tantangan besar untuk masyarakat modern saat ini.
Dengan adanya kemajuan teknologi dan internet, batas antara pribadi dan publik semakin kabur, sementara penyebaran informasi menjadi lebih cepat dan luas. Hal ini membawa konsekuensi etis yang kompleks, seperti penyebaran berita palsu, pelanggaran privasi, dan bahkan penyalahgunaan data.
Krisis etika di era digital tidak hanya mempengaruhi individu, tetapi juga masyarakat dan institusi secara keseluruhan, sehingga memerlukan perhatian dan tindakan yang serius untuk mengatasinya.
Dalam menghadapi tantangan ini, penting untuk memahami dampak etika dari teknologi dan bekerja sama untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, aman dan beretika di dunia digital.
Neil Postman, seorang penulis, pendidik sekaligus kritikus budaya Amerika yang terkenal dengan karyanya tentang teori media dan dampak teknologi pada masyarakat, menyatakan bahwa “ dulu kita harus pantas didengar untuk bicara, sedangkan kini, cukup punya akun untuk bersuara meski tanpa isi dan tanpa etika”.
Kutipan singkat yang sederhana ini memiliki nilai atau makna yang begitu besar, Neil Postman ini mengingatkan kita akan transformasi budaya, dari dunia yang menghargai makna menuju dunia yang memuja eksistensi digital. Bahwa dulu seseorang berbicara setelah belajar, merenung dan membuktikan dirinya layak. Kini, mikrofon virtual terbuka untuk siapa saja tanpa syarat kecuali keberanian menekan tombol “kirim”.
■ Media Sosial jadi platform utama omunikasi dan informasi di era digitalisasi saat ini
Media sosial telah menjadi platform utama komunikasi dan informasi di era digitalisasi saat ini. Meskipun menawarkan berbagai manfaat besar dalam hal koneksi dan akses informasi, penggunaan yang kurang etis dan pemahaman yang rendah tentang nilai etika komunikasi dalam penggunaan bahasa di media sosial telah memunculkan krisis etika yang signifikan.
Krisis ini memunculkan dampak negatif pada lingkungan, yang mencakup perpecahan masyarakat, ketidakpedulian terhadap privasi, dan berkurangnya kepercayaan publik dalam informasi yang disajikan di media sosial.
Media sosial merupakan media komunikasi yang paling banyak diminati di era modern ini dengan berbagai macam tujuan dan kebutuhan, baik itu kebutuhan bisnis, politik, hiburan, integrasi sosial bahkan propaganda. Bahkan, media sosial menjadi suatu kebutuhan utama masyarakat modern di era digitalisasi saat ini. Media memberikan dampak yang signifikan bagi para pengguna dengan memberikan kemudahan dalam melakukan komunikasi dengan teman, keluarga, dan orang lain di seluruh dunia. Selain itu, media sosial mampu memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi terkait sesuatu secara cepat.
Media sosial telah menjadi bagian penting dalam budaya digital modern, dengan pengaruh yang mendalam dalam berbagai aspek kehidupan kita. Media sosial terus mengalami perkembangan dan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, dan memainkan peran penting dalam cara kita berkomunikasi dan berinteraksi dalam masyarakat kontemporer terutama pada aspek kebahasaan.
Nilai kebahasaan dalam berkomunikasi menjadi suatu orientasi manusia dalam melakukan aktivitas komunikasi secara verbal atau non-verbal. Namun, sering sekali ditemukan hal yang berseberangan dengan norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Fenomena tersebut dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial.
Pemahaman masyarakat mengenai etika dan nilai kebahasaan memengaruhi cara berbahasa masyarakat dalam komunikasi melalui media sosial. Pemahaman masyarakat tentang etika dan nilai kebahasaan dapat menciptakan lingkungan komunikasi dalam media sosial, baik secara positif maupun secara negatif.
Fenomena terkait etika komunikasi dalam penggunaan media sosial membuat banyak pihak beranggapan negatif dari teknologi yang menyebabkan lunturnya nilai etika dan nilai kebahasaan dalam berkomunikasi yang memberikan pengaruh buruk terhadap masyarakat, khususnya terhadap generasi muda sebagai penerus bangsa. Fenomena ini menunjukkan pentingnya etika komunikasi yang baik dalam penggunaan media sosial.
Dalam ajaran stoikisme, diajarkan tentang bagaimana etika dalam berbicara. Marcus Aurelius yang adalah seorang filsuf dan kaisar Romawi menulis, “jika ucapanmu tidak perlu, jangan katakan”. Hari ini fakta yang terjadi berbanding terbalik, keheningan dianggap sebagai kekalahan, dan kebisingan menjadi cara untuk membangun identitas.
Etika dalam berbicara di media sosial atau virtual merupakan aspek yang sangat pening dalam komunikasi online. Dengan semakin berkembangnya tenknologi dan meningkatnya penggunaan media sosial, blog, dan platform online lainnya, kita memiliki kesempatan untuk berbagi pikiran, ide dan pendapat dengan orang lain di seluruh dunia. Namun perlu dipahami bahwa kesempatan penggunaan media virtual harus dibarengi dengan tanggung jawab untuk berbicara dengan etika dan sopan santun.
Krisis pemahaman etika dalam penggunaan bahasa terhadap media sosial merupakan suatu fenomena yang popular di era digitalisasi. Pertumbuhan penggunaan media sosial secara pasif telah membawa berbagai tantangan terkait etika dalam berkomunikasi online.
Dalam berkomunikasi di media virtual, kita perlu memperhatikan beberapa hal, seperti menggunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung orang lain, tidak menyebarkan informasi palsu atau hoaks, serta tidak melakukan serangan pribadi atau penghinaan terhadap orang lain. Selain itu, perlu juga mempertimbangkan dampak dari kata ataupun kalimat yang digunakan terhadap para penikmat media virtual dan memastikan bahwa kita tidak menyebarkan kebencian atau diskriminasi.
■ Implementasi pemahaman etika dalam penggunaan media sosial
Implementasi pemahaman etika dan nilai kebahasaan masyarakat dalam penggunaan media sosial masih dirasa sangat kurang efektif dan efisien dalam mewujudkan lingkungan positif di media sosial.
Penggunaan bahasa kasar atau tidak etis seringkali ditemukan di berbagai aplikasi media sosial. Sehingga sangat diperlukan upaya dalam mengatasi hal tersebut baik diberlakukannya sanksi berupa pemblokiran konten, denda, maupun hukuman pidana bagi para pelaku yang menggunakan bahasa kasar atau tidak etis dalam penggunaan media sosial.
Selain itu, moralitas merupakan sebuah faktor penting dalam era digital ini. Moralitas adalah sistem nilai yang memandu perilaku manusia. Faktor-faktor seperti budaya, agama, dan etika memengaruhi moralitas individu dan masyarakat. Perkembangan teknologi membawa tantangan etika baru, dan masyarakat perlu memperhatikan implikasi moral dari penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kesadaran akan etika teknologi dan moralitas menjadi kunci dalam menghadapi dampak positif dan negatif dari perkembangan teknologi di era digital ini.
Dengan memperhatikan aspek moralitas yang melibatkan etika dan sopan santun dalam menggunakan media virtual, kita semua telah menjadi pribadi yang terlibat dalam terciptanya lingkungan online yang lebih positif, konstruktif dan mendukung pertukaran ide yang sehat.
Oleh karena itu penting bagi kita untuk berpikir sebelum berbicara dan mempertimbangkan kata-kata yang kita gunakan dalam platform media online. Dengan demikian, kita dapat menggunakan media virtual sebagai sarana untuk berbagi pengetahan, membangun hubungan, dan meningkatkan kesadaran sosial dengan cara yang positif dan bertanggung jawab. (Redaksi)





